Tampilkan postingan dengan label Tentang seseorang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang seseorang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Maret 2018

Pertanyaan Sebelum Telat Malam

"Hei, bisa minta waktunya sebentar?"

Barang kali baru lima menit aku duduk di sebuah restoran siap saji, hanya dengan paket terhemat yang bisa aku beli. 

Perempuan yang menyapa itu mungkin usianya awal 20-an, tebakanku antara 21 atau 24. Senyumnya luas, walau gerakannya agak takut dan bingung. Aku sama takut dan bingungnya karena mengira ia mungkin sales atau seseorang yang ingin menawarkan asuransi. Tapi akhirnya aku mengangguk juga, tak tega karena sedari tadi nampaknya ia mencari-cari mangsa untuk ditanyai dan tak kunjung diterima. 

Ia duduk di depanku. Wajahnya semakin jelas kini. Putih pucat, lipstik pink dan rambut kumal yang diikat ekor kuda. Ia terlihat kikuk untuk menyusun kalimat sebelum akhirnya dia bilang, "halo, kamu pasti tidak kenal sama saya kan? Tapi kamu mengamati saya. Boleh saya minta tolong sesuatu? Saya sedang adakan satu penelitian untuk bahan tulisan saya. Saya ingin kamu deskripsikan sesuatu ketika melihat saya."

Dahiku berkerut. "Kenapa itu penting?"

Dia tertawa. Tawanya agak mengingatkan dengan seseorang atau pesohor, aku tidak ingat siapa. 

"Anggap saya seperti survei. Saya sudah dapat 4 orang untuk ditanya, kamu akan menjadi penggenap bila mau membantu saya." 

Mendengar itu, aku hanya mengangkat bahu lengkap dengan ekspresi semacam "ya baiklah". Secara instan, ia langsung tersenyum senang seakan reaksiku adalah hal yang paling membahagiakan yang ia lihat selama hidupnya. 

"Jadi langsung saja, apa pendapatmu begitu melihat saya? Sebutkan saja yang ada dalam pikiranmu."

Sesaat, aku melihat ke arahnya. Matanya yang kecil dan agak sipit. Ekspresinya menunggu cemas seperti anak kecil walaupun tidak cocok dengan postur badannya yang tinggi dan gempal.

"Jangan lupa juga bilang, kalau menurutmu pesohor apa yang kepribadiannya mirip dengan saya."

Dahiku berkerut lagi tapi tetap aku iyakan. 

"Dari hasil pengamatanku, karena aku tentu tidak mengenalmu, tapi aku lihat kamu sedang bingung. Entah bingung karena apa. Tapi kamu seperti mencari sesuatu dan belum menemukannya. Sejak kamu masuk restoran, kamu terlihat sendiri dan memang nampaknya selalu sendiri. Begitu kamu menanyai orang-orang di sekitar dan mereka menolak, kamu tetap tersenyum tapi tampak sepertinya kamu sedih sekali dengan penolakan mereka. Mungkin kamu jarang mengalami penolakan atau baru sadar kalau kamu akan mendapatkan penolakan. 

Ketika aku melihat matamu, aku melihat keriangan yang bercampur dengan kesendirian. Agak kontradiktif karena nampaknya kamu begitu menginginkan seseorang tapi di sisi lain, kamu tidak nyaman bila tidak sendirian.....," Kalimatku menggantung tapi akhirnya tidak aku teruskan. Aku lihat ia terpana akan setiap kata-kataku, lebih seperti terkagum-kagum tentang betapa jelasnya aku menggambarkan dirinya.

"Ada lagi?" 

"Hah apanya?"

"Sepertinya masih banyak yang ingin kamu katakan tentang saya, ucapkan saja semua."

"Kamu yakin kamu mau semua? Kalau aku bilang hal yang bisa melukaimu bagaimana?"

"Oh, tidak apa-apa. Asal kamu tahu, dari 4 orang yang saya tanya, banyak sekali pendapat yang menyakitkan tentang bagaimana mereka melihat saya. Orang pertama bilang kalau saya seperti "gadis aneh yang lemah", orang ketiga bilang ekspresi saya seperti selalu habis menangis, bahkan orang terakhir dengan yakin bilang bahwa saya kena Schizofrenia."

Aku tersenyum getir mendengarnya----entahlah apakah senyuman tipisku adalah ekspresi yang tepat untuk semua keluhannya tadi. Aku merasa agak iba dan bersalah karena sebenarnya tadi ada sedikit dalam pikiranku yang ingin mengiyakan pendapat semua orang dalam ceritanya. Tapi melihat cara ia tersenyum dan menanggapi ucapanku, aku rasa ia baik-baik saja. Ia tak seburuk itu. 

"Hmmm...  apa lagi ya. Kamu nampaknya suka bicara yang ngelantur dan tidak nyambung. Mungkin itu kenapa kamu tidak punya banyak teman. Kehidupan yang kamu dambakan lebih seperti mimpi anak kecil, hanya bermain-main. Ketika semua orang bicara tentang menjadi dewasa, kamu tidak menyukainya." 

"Kira-kira seperti pesohor siapa?" tanyanya antusias. 

Aku berpikir lagi. Beberapa nama menghampiri pikiranku tapi aku hanya teringat satu nama : Anna Kendrick. Mungkin karena tadi pagi aku menonton film yang dibintangi Anna Kendrick.

"Mungkin Anna Kendrick di film Pitch Perfect. Persis kamu. Independen, tertutup, idealis, tapi mudah tertawa. Aku rasa..."

Ia tersenyum penuh mendengarnya. Dia lalu membuka tasnya untuk mengambil semacam note kecil, mengambil pulpen lalu mulai menulis panjang tentang sesuatu. Mungkin apa yang aku bicarakan tadi. 

"Oh ya, nama kamu siapa? Sebagai tanda bahwa survei ini sudah berhasil," tanyanya sambil terus menulis. 

"Aditya." 

"Usia?"

"22 tahun ini."

"Wah kamu lebih muda dariku! Aku sudah 25 lo."

"25 masih muda." 

"Ah tapi tidak semuda kamu." 

Aku hanya tersenyum sementara ia nampak terus bertanya pertanyaan-pertanyaan pendek seputar usia, bekerja dimana dan kenapa aku memilih makan di restoran ini. Aku duga ia hanya sedang memperpanjang basa-basi sebelum pergi. Entah kenapa ia merasa basa-basi ini akan menjadi penting tapi itu malah membuatku semakin yakin tentang semua pendapatku mengenai dia barusan. 

Ketika akhirnya ia menutup note dan bersiap untuk merapikan tas, ia seperti sedang menunggu sesuatu untuk kukatakan. Aku bingung harus bereaksi apa selain menghindarkan diri dari tatapan matanya yang terus menanti.

"Adakah lagi yang ingin kamu tanyakan tentang saya?" 

Aku bingung mendengar pertanyaannya tapi langsung spontan menggeleng. Dia hanya tersenyum lebar dan akhirnya berdiri. 

"Baiklah kalau begitu, saya pulang duluan. Terima kasih sudah menjadi orang terakhir yang mengisi survei tentang saya. Maaf bila banyak menganggu waktunya, Aditya."

"Oke. Terima kasih juga," balasku sebelum ia berjalan pergi menuju pintu. 

Selepas ia pergi, aku kembali melanjutkan acara makanku. Nasi dan ayamku yang tadinya panas beruap-uap sudah dingin dengan es cola yang sudah banyak mencair. Aku makan dan sambil membuka Instagram, Twitter, Instagram lagi lalu Twitter lagi sampai akhirnya aku pergi dari restoran tepat jam 10 malam. Tempat itu sudah benar-benar kosong dengan hanya satu pegawai-----seorang bapak-bapak yang membersihkan lantai sampai terlihat licin sekali. 

Aku memasang headset yang memutarkan lagu secara acak dan gratisan lewat Spotify. Lagu yang terputar milik Lorde judulnya Perfect Places. Begitu lagu itu terdengar, entah kenapa aku malah jadi berpikir tentang gadis yang tadi. Hanya ingin menanyakan apakah ia suka Lorde? Lalu apa lagu kesukaannya? Ia nampaknya terbuka akan banyak hal dan mungkin penggemar terbesarnya. Kalaupun tidak, setidaknya kami bisa menyambung percakapan tentang apa film favoritnya atau kapan ia ke bioskop terakhir kali. Pikiran-pikiran kecilku kadang memerlukan pendengar.

Mendadak, aku merasa melewatkan kesempatan untuk bercakap. Aku rasa gadis itu juga menginginkan aku untuk bicara terus menerus bersamanya. Dan aku sebenarnya berbohong tentang cara mendeskripsikannya. Ia sama sekali tidak mirip dengan Anna Kendrick di Pitch Perfect, malah lebih seperti seorang tokoh yang diperankan Sissy Spacek di film 3 Women. Di film itu, Sissy menjadi seorang gadis polos yang ingin sekali berteman dengan Shelley DuVall, tapi malah mengalami penolakan karena terus menerus meniru tingkahnya. Aku baru sadar bahwa cara ia tertawa dan terpana menanggapi setiap kalimatku begitu mirip dengan cara Sissy Spacek tertawa, seperti gadis kecil umur 10 tahun dalam tubuh orang dewasa.

Dan pikiranku kemudian bermonolog sendiri tentang banyak hal yang bertumpuk-tumpuk, sementara sedikit rasa sesalku kenapa tidak berani untuk mengutarakannya dalam percakapannya tadi. Satu-satunya pelepasanku hanyalah dengan membuka akun Twitter dan menulis sesuatu yang agak puitis tentang bertemu orang asing hari ini. Tidak aku harapkan bahwa dia di suatu tempat akan dapat membaca tweet-tweet ini, karena aku yakin kami tidak akan pernah bertemu lagi. 

Kalaupun kami akan bertemu lagi, aku penasaran untuk membalas pertanyaannya yang pertama. Apa pendapatnya ketika melihat aku tadi?


*Ditulis saat duduk di halte Busway Tosari Sarinah pukul 9 malam

Minggu, 03 Desember 2017

Sampai Jumpa Lagi, D!

Hai, D. 

Mungkin hanya beberapa minggu. Atau bisa jadi hanya sampai sebulan. Sungguh lucu atau malah menyedihkan ya bagaimana manusia bisa bertemu lalu dengan mudahnya berpisah lagi. Saya pikir ini akan menjadi sesuatu. Saya pikir akan ada kesempatan, kamu akan menjadi seseorang yang berbeda yang bukan hanya sama dengan puluhan lelaki lainnya yang saya sukai lalu saya hapus lagi dari ingatan. 

Yang saya tahu kamu pintar. Kamu cekatan. Kamu penuh dengan antusias dan mimpi-mimpi dan kamu  loyal terhadap semua orang. Kamu ingin mendengarkan cerita orang, bukan hanya sibuk berceloteh tentang diri sendiri. Saya ingat impian kamu itu, yang kamu ceritakan dengan sepenuh hati. Suatu malam kita bicara tentang betapa menyebalkannya dunia ketika sudah lulus sekolah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan... saya yang diam-diam mengomel tentang betapa membosankannya kerja kantoran dan kamu yang bilang bahwa kamu tidak akan pernah mau bekerja seumur hidup hanya di belakang meja tanpa melakukan apa-apa.

Malam itu saya rasa akan menjadi awal sesuatu. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya akhirnya jatuh cinta lagi dan saya berharap. Saya berharap setelah ini kamu akan datang lagi dan lagi dengan ceritamu. Saya ingin kamu menjadi yang berbeda, saya ingin kamu jadi orang yang menerima cerita saya dan menganggap itu mengagumkan bukannya menghakimi.

Hari-hari setelahnya, saya semakin mampu membaca kamu. Bahwa saya membayangkan keluarga seperti apa yang membesarkan kamu, pasti seorang ayah yang baik dan pengertian, dimana setiap makan malam adalah diskusi yang terbuka antara kamu dan semua saudara-saudaramu. Mereka tidak akan kolot dan mereka mendukung semua kebebasan yang kamu pilih. 

Perlahan saya iri. 

Saya seperti alien yang mendambakan manusia yang sempurna.

Jadi sekarang kamu pergi dan kita berpisah mungkin untuk selamanya. Pertemuan terakhir kita rasanya hanya beberapa menit dan harapan itu dengan mudahnya lagi pergi. Wajah kamu kembali jadi lintasan ingatan yang mungkin akan terendapkan jauh, sama seperti wajah-wajah lain yang tidak pernah bertahan lama. 

Tapi mau bagaimana lagi. Memang hidup seperti ini. Dan kadang-kadang saya rasa, memang saya tidak sebaik itu untuk bisa bersama kamu. 

Jadi sampai jumpa lagi, D. Terima kasih untuk waktu yang sebentar bisa menitipkan rasa sayang ke kamu. :)

Rabu, 24 Juni 2015

Dia yang Dulu Duduk Di Kelas Itu

Aku pergi tiba-tiba. Kau hilang tiba-tiba. Lelaki dengan senyum gula yang dahinya mudah berkeringat. 

Nanti juga aku tak akan ingat kau lagi. Tapi kali ini cuma mau bilang, mungkin aku lagi tak ada bahan angan sama sekali sampai harus mengatakan aku kangen kau yang tak terlalu kukenal.

P.S : Terima kasih untuk lukanya. Akhinya aku memutuskan pensiun.

Senin, 27 April 2015

Takashi Kashiwabara

http://i2.listal.com/image/566030/600full-takashi-kashiwabara.jpg
dia adalah tipe lelaki yang duduk di deretan belakang dari kelas sebelah atau malah di belakang kursimu, tidak banyak bicara apalagi suka membaur. tapi mungkin malah karena dia terus diam dia terlihat cool. Atau karena dia selalu diam dia menjadi populer. fansnya tak sebanyak si ketua OSIS, si mulut besar, si jago olahraga atau si anak band tapi diam-diam ada sekumpulan perempuan entah adik kelas atau kelas sebelah yang menyimpan perasaan padanya. dia bukan yang paling pintar, mungkin dia pintar tapi dia mungkin tidak terlalu peduli tentang menjadi pintar dan mendapat nilai sempurna. dia mungkin punya cita-cita tak tertebak dia mungkin niat tak niat sekolah, dia mungkin bandel juga walau tak punya predikat bandel sekelas lelaki-lelaki yang namanya sudah dihapal oknum guru tiap tahun. dia adalah mungkin juga lelaki yang tidak pernah bicara padamu, dia juga mungkin yang cuma nampak egois atau sesekali suka menjahilimu, membuatmu sebal atau malah menangis saat sampai rumah. dia juga yang tak gampang tertebak, yang misterius, yang kamu tidak pernah tahu dengan jelas bagaimana dirinya atau pemikirannya karena dia jarang bicara dan punya teman di sekolah. 

tapi dia jugalah lelaki yang membuat kamu diam-diam memikirkannya. dia juga yang diam-diam kamu perhatikan dari kejauhan atau sesudah berpapasan, dia juga yang ketika bertatapan dengan kamu kamu merasa seperti terbang diiringi lagu lost in your eyes - debbie gibson, close to you - the carpenters atau dreams are my reality - richard sanderson. dia juga alasan kamu terus ke sekolah, wajah dia yang imut tapi belagu itu yang membuat kamu gemas sekaligus sebal. kamu melihat di sebuah jeda sebelum dia pemanasan olahraga. tepat di koridor. kamu senang menikmati dia yang sedang stretching. kamu menebak dia sedang berpikir apa. dan ketika dia menatap ke arah mu kamu langsung menoleh. lari. 

love letter. sunny. you are the apple of eye. hana and alice. suckseed. masa muda yang membosankan masa muda yang manis masa muda yang tak tahu apa-apa masa muda yang basi masa muda penuh khayal masa muda yang kebanyakan mengecewakan masa muda dan seorang lelaki yang membuat kamu terus menunggu dan mengharapkan dia juga menunggumu. 



https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/10/5e/b7/105eb758281ce84d363bdad1ca445e63.jpg


oh takashi kashiwabara, jelmaan nyata dari puluhan serial cantik Jepang 90-an. melihatmu membuat saya ingin masa-masa itu datang lagi.