Rabu, 04 Juli 2018

This Is The Moment When I'm Totally Speechless About God's Plot Twists and Jokes

So you find yourself at this subway
When your world in a bag by your side
And all at once it seemed like a good way
You realized its the end of your life
For what it's worth
Here comes the train upon the track
And there goes the pain it cuts to black
Are you ready for the last act?
To take a step you can't take back
Take in all the punches you could take
Took 'em all right on your chest
Now the countless back is breaking
Again, again
For what it's worth
Here comes the train upon the track
And there goes the pain it cuts to black
Are you ready for the last act?
To take a step you can't take back

Sabtu, 02 Juni 2018

Takut

Saya sering merasa ketakutan. Tapi tengah malam ini mungkin saya tak pernah merasa setakut ini. Mendadak saya sadar saya orang yang amat bodoh. Saya adalah penjudi yang seakan berteriak masa bodoh tapi belakangan menyesal juga. Saya merasa bahwa kini nasib saya di ambang batas antara keberuntungan dan keterpurukan. Dan di saat seperti ini pula, masalah jadi datang bertubi-tubi. Dan wajah-wajah lama menghiasi kembali, kadang bercampur rasa sesal tentang kenapa semua tidak bisa berjalan seperti yang saya inginkan. Ada kemarahan yang mungkin saya diam-diam simpan rapat. Mungkin saya sudah gila, sudah putus asa. Entahlah. Yang pasti sekarang saya merasa takut karena cepat atau lambat, jurangnya akan segera tiba.

Sabtu, 28 April 2018

Images of Affection









Foto-foto film soal kasih sayang, soal dipengaruhi-mempengaruhi, mencemburui cerita orang lain sebagai sensasi obsesi, cinta, rasa nyaman, tidak ada yang perlu dihiraukan atau membuat risih karena kamu tidak seorang diri. 

Salah

Saya sedang berpikir tentang Jakarta. Tentang Indonesia. Tentang orang-orang yang hidup dan bangun pagi setiap hari hanya demi uang puluhan ribu. Yang rela menunggu antrian busway, yang rela berdesak-desakan di dalamnya. Yang menunggu satu jam lebih hanya untuk berebut dapat kursi. Yang hidup untuk hari ini, yang hidup untuk harapan segera menikah atau segera punya anak.

Saya rasa mungkin tidak ada yang salah. Tujuan apapun adalah murni sebuah tujuan. Tapi ada yang terasa aneh ketika tujuan didefinisikan sebagai 'tidak normal' ketika jawabannya bukan untuk menikah dan punya anak. Ketika pula keperawanan dan seks adalah hal tabu. Saat isu agama menjadi hal yang paling mudah memancing emosi, tanpa dipahami sedewasa mungkin. Ketika hidup hanya tentang menjadi robot dan mereka yang melawan dianggap kaum buangan.

Sangat-sangat ada yang salah....

Saya tahu bahwa ada hal yang lebih besar dari ini semua. Tidak, tidak boleh hanya seperti ini saja.

Selasa, 24 April 2018

Ketika Seisi Dunia Menjadi Malas...

Memang basa-basi tidak enak. Semuanya suka to the point. Tapi ketika semua jadi hanya menitikberatkan pada tujuan, sesuatu terasa hilang dan hampa...


Suatu kisah yang banyak terdengar.


Seseorang mendapat teman kencan dari Tinder. Lalu mereka mulai chat nakal dan sang teman kencan  langsung membahas ke topik utama, "kapan ketemuan?"

Besoknya ketemuan, make love, dan ya sudah it's done. 

Kisah lain lagi tapi agak serupa.

Seseorang memesan order via ojek online. Ojeknya datang. Sepanjang perjalanan, mereka tidak bicara, sibuk masing-masing. Sampai tujuan, order selesai dan driver pergi. Sudah, it's done. 

Ah, atau satu contoh kasus lagi yang saya alami sendiri.

Bertemu seorang lelaki saat menunggu nonton film. He's okay, good looking, walau beda studio tapi karena kami sama-sama sendirian, sehingga menghabiskan waktu untuk mengobrol lama sebelum film diputar. Sepanjang obrolan yang akhirnya mengalir kemana-mana, saya merasa kami bisa jadi teman bicara yang cocok. Ya, bukan tipe kimia yang ajaib seperti di film-film romansa. Cuma asyik saja. Akhirnya dia meminta untuk tukar nomor Whatsapp. Saya setuju. Lalu kami berpisah.

Tentu malamnya, kami langsung chat lagi. Beberapa obrolan, beberapa tanya-jawab, lagi dan lagi... dan... setelah dua hari, obrolan terputus. Arus kimianya berhenti. Setelah itu, tidak berlanjut lagi. Saya sibuk dengan hal lain sehingga menjadi malas. Mungkin dia pun juga begitu. Dan seperti halnya orang asing, semua semudah itu terlupakan.

Saya berusaha menganalisis ini dan sebenarnya masih bertanya, ada apa? Karena ini sudah sering sekali terjadi. Apakah "small talk" atau basa-basi akhirnya menjadi sesuatu yang benar-benar dijauhi? Oh jelas, kita membencinya terutama apabila dalam keadaan terpaksa seperti terjepit di lautan basa-basi keluarga besar waktu hari raya atau di kawinan teman. Tapi saya orang yang yakin bahwa basa-basi itu kadang diperlukan. Untuk proses mengenal seseorang yang kita inginkan, misalnya. Atau sebuah tahap awal sebelum kita dengan mudahnya bicara hal-hal yang tidak basa-basi bersamanya. Coba kamu bayangkan saja kalau sedang makan di McDonald dan tiba-tiba dihampiri seorang lelaki terus dia bilang, "Kamu tahu kenapa Ken Arok terpikat sama betis Ken Dedes?" atau dia mulai bicara soal 65, 98 atau sejarah Indonesia jaman kolonial tanpa mengenalkan diri sebelumnya? Oh, tentu apa-apaan dia ini!

Jadi sebenarnya "ada apa" ini apakah erat kaitannya dengan fenomena teknologi yang menggampangkan? Ketika semua dimudahkan aplikasi dan internet, ketika tawa kita ditentukan oleh video apa yang kita lihat hari ini atau berapa likes yang kita dapat di Instagram... Ketika semua menjadi instan dan begitu sistematis, proses tak lagi kita perlukan? Dulu begitu kurang kerjaannya, kita pernah chat di mIRC. Meluangkan segala waktu untuk dibalas dan berharap ketemuan. Dulu teman saya pernah pacaran sama orang yang dia saja belum pernah ketemuan, hanya berhubungan lewat SMS dan telepon tapi awet sampai setahunan.  Lalu asumsi saya ketika semua menjadi sangat, sangat mudah tanpa perlu effort sama sekali, kita juga menjadi lebih malas nampaknya.

Ya, mungkin saja.

Atau mungkin kalau ingin jawaban yang lebih puitis nan romantis adalah, "kamu belum bertemu yang mau memperjuangkan kamu sebegitunya aja kaliiiiiii...." 

Hmmm...






Kamis, 29 Maret 2018

Kehidupan adalah ketika kita begitu menginginkan sesuatu, menyisihkan banyak waktu, uang dan tenaga tapi tidak mendapatkannya. Kehidupan adalah juga ketika kita tidak serius dan bermain-main, menganggap sesuatu hanya sekedar candaan dan kemudian ironisnya, kita beruntung mendapatkannya.

Sementara manusia jungkir-balik jadi gila karenanya, Tuhan sedang menggerakkan tali boneka seperti anak kecil yang kesenangan mendapat mainan baru. Dia selalu bercanda, Dia selalu masokis. Apa yang bisa kita lakukan? Entahlah, seperti tokoh utama di film horor. Mencoba kabur, mencoba selamat. Dan kadang perlu satu celah tipis bernama keberuntungan.

Jumat, 23 Maret 2018

Pertanyaan Sebelum Telat Malam

"Hei, bisa minta waktunya sebentar?"

Barang kali baru lima menit aku duduk di sebuah restoran siap saji, hanya dengan paket terhemat yang bisa aku beli. 

Perempuan yang menyapa itu mungkin usianya awal 20-an, tebakanku antara 21 atau 24. Senyumnya luas, walau gerakannya agak takut dan bingung. Aku sama takut dan bingungnya karena mengira ia mungkin sales atau seseorang yang ingin menawarkan asuransi. Tapi akhirnya aku mengangguk juga, tak tega karena sedari tadi nampaknya ia mencari-cari mangsa untuk ditanyai dan tak kunjung diterima. 

Ia duduk di depanku. Wajahnya semakin jelas kini. Putih pucat, lipstik pink dan rambut kumal yang diikat ekor kuda. Ia terlihat kikuk untuk menyusun kalimat sebelum akhirnya dia bilang, "halo, kamu pasti tidak kenal sama saya kan? Tapi kamu mengamati saya. Boleh saya minta tolong sesuatu? Saya sedang adakan satu penelitian untuk bahan tulisan saya. Saya ingin kamu deskripsikan sesuatu ketika melihat saya."

Dahiku berkerut. "Kenapa itu penting?"

Dia tertawa. Tawanya agak mengingatkan dengan seseorang atau pesohor, aku tidak ingat siapa. 

"Anggap saya seperti survei. Saya sudah dapat 4 orang untuk ditanya, kamu akan menjadi penggenap bila mau membantu saya." 

Mendengar itu, aku hanya mengangkat bahu lengkap dengan ekspresi semacam "ya baiklah". Secara instan, ia langsung tersenyum senang seakan reaksiku adalah hal yang paling membahagiakan yang ia lihat selama hidupnya. 

"Jadi langsung saja, apa pendapatmu begitu melihat saya? Sebutkan saja yang ada dalam pikiranmu."

Sesaat, aku melihat ke arahnya. Matanya yang kecil dan agak sipit. Ekspresinya menunggu cemas seperti anak kecil walaupun tidak cocok dengan postur badannya yang tinggi dan gempal.

"Jangan lupa juga bilang, kalau menurutmu pesohor apa yang kepribadiannya mirip dengan saya."

Dahiku berkerut lagi tapi tetap aku iyakan. 

"Dari hasil pengamatanku, karena aku tentu tidak mengenalmu, tapi aku lihat kamu sedang bingung. Entah bingung karena apa. Tapi kamu seperti mencari sesuatu dan belum menemukannya. Sejak kamu masuk restoran, kamu terlihat sendiri dan memang nampaknya selalu sendiri. Begitu kamu menanyai orang-orang di sekitar dan mereka menolak, kamu tetap tersenyum tapi tampak sepertinya kamu sedih sekali dengan penolakan mereka. Mungkin kamu jarang mengalami penolakan atau baru sadar kalau kamu akan mendapatkan penolakan. 

Ketika aku melihat matamu, aku melihat keriangan yang bercampur dengan kesendirian. Agak kontradiktif karena nampaknya kamu begitu menginginkan seseorang tapi di sisi lain, kamu tidak nyaman bila tidak sendirian.....," Kalimatku menggantung tapi akhirnya tidak aku teruskan. Aku lihat ia terpana akan setiap kata-kataku, lebih seperti terkagum-kagum tentang betapa jelasnya aku menggambarkan dirinya.

"Ada lagi?" 

"Hah apanya?"

"Sepertinya masih banyak yang ingin kamu katakan tentang saya, ucapkan saja semua."

"Kamu yakin kamu mau semua? Kalau aku bilang hal yang bisa melukaimu bagaimana?"

"Oh, tidak apa-apa. Asal kamu tahu, dari 4 orang yang saya tanya, banyak sekali pendapat yang menyakitkan tentang bagaimana mereka melihat saya. Orang pertama bilang kalau saya seperti "gadis aneh yang lemah", orang ketiga bilang ekspresi saya seperti selalu habis menangis, bahkan orang terakhir dengan yakin bilang bahwa saya kena Schizofrenia."

Aku tersenyum getir mendengarnya----entahlah apakah senyuman tipisku adalah ekspresi yang tepat untuk semua keluhannya tadi. Aku merasa agak iba dan bersalah karena sebenarnya tadi ada sedikit dalam pikiranku yang ingin mengiyakan pendapat semua orang dalam ceritanya. Tapi melihat cara ia tersenyum dan menanggapi ucapanku, aku rasa ia baik-baik saja. Ia tak seburuk itu. 

"Hmmm...  apa lagi ya. Kamu nampaknya suka bicara yang ngelantur dan tidak nyambung. Mungkin itu kenapa kamu tidak punya banyak teman. Kehidupan yang kamu dambakan lebih seperti mimpi anak kecil, hanya bermain-main. Ketika semua orang bicara tentang menjadi dewasa, kamu tidak menyukainya." 

"Kira-kira seperti pesohor siapa?" tanyanya antusias. 

Aku berpikir lagi. Beberapa nama menghampiri pikiranku tapi aku hanya teringat satu nama : Anna Kendrick. Mungkin karena tadi pagi aku menonton film yang dibintangi Anna Kendrick.

"Mungkin Anna Kendrick di film Pitch Perfect. Persis kamu. Independen, tertutup, idealis, tapi mudah tertawa. Aku rasa..."

Ia tersenyum penuh mendengarnya. Dia lalu membuka tasnya untuk mengambil semacam note kecil, mengambil pulpen lalu mulai menulis panjang tentang sesuatu. Mungkin apa yang aku bicarakan tadi. 

"Oh ya, nama kamu siapa? Sebagai tanda bahwa survei ini sudah berhasil," tanyanya sambil terus menulis. 

"Aditya." 

"Usia?"

"22 tahun ini."

"Wah kamu lebih muda dariku! Aku sudah 25 lo."

"25 masih muda." 

"Ah tapi tidak semuda kamu." 

Aku hanya tersenyum sementara ia nampak terus bertanya pertanyaan-pertanyaan pendek seputar usia, bekerja dimana dan kenapa aku memilih makan di restoran ini. Aku duga ia hanya sedang memperpanjang basa-basi sebelum pergi. Entah kenapa ia merasa basa-basi ini akan menjadi penting tapi itu malah membuatku semakin yakin tentang semua pendapatku mengenai dia barusan. 

Ketika akhirnya ia menutup note dan bersiap untuk merapikan tas, ia seperti sedang menunggu sesuatu untuk kukatakan. Aku bingung harus bereaksi apa selain menghindarkan diri dari tatapan matanya yang terus menanti.

"Adakah lagi yang ingin kamu tanyakan tentang saya?" 

Aku bingung mendengar pertanyaannya tapi langsung spontan menggeleng. Dia hanya tersenyum lebar dan akhirnya berdiri. 

"Baiklah kalau begitu, saya pulang duluan. Terima kasih sudah menjadi orang terakhir yang mengisi survei tentang saya. Maaf bila banyak menganggu waktunya, Aditya."

"Oke. Terima kasih juga," balasku sebelum ia berjalan pergi menuju pintu. 

Selepas ia pergi, aku kembali melanjutkan acara makanku. Nasi dan ayamku yang tadinya panas beruap-uap sudah dingin dengan es cola yang sudah banyak mencair. Aku makan dan sambil membuka Instagram, Twitter, Instagram lagi lalu Twitter lagi sampai akhirnya aku pergi dari restoran tepat jam 10 malam. Tempat itu sudah benar-benar kosong dengan hanya satu pegawai-----seorang bapak-bapak yang membersihkan lantai sampai terlihat licin sekali. 

Aku memasang headset yang memutarkan lagu secara acak dan gratisan lewat Spotify. Lagu yang terputar milik Lorde judulnya Perfect Places. Begitu lagu itu terdengar, entah kenapa aku malah jadi berpikir tentang gadis yang tadi. Hanya ingin menanyakan apakah ia suka Lorde? Lalu apa lagu kesukaannya? Ia nampaknya terbuka akan banyak hal dan mungkin penggemar terbesarnya. Kalaupun tidak, setidaknya kami bisa menyambung percakapan tentang apa film favoritnya atau kapan ia ke bioskop terakhir kali. Pikiran-pikiran kecilku kadang memerlukan pendengar.

Mendadak, aku merasa melewatkan kesempatan untuk bercakap. Aku rasa gadis itu juga menginginkan aku untuk bicara terus menerus bersamanya. Dan aku sebenarnya berbohong tentang cara mendeskripsikannya. Ia sama sekali tidak mirip dengan Anna Kendrick di Pitch Perfect, malah lebih seperti seorang tokoh yang diperankan Sissy Spacek di film 3 Women. Di film itu, Sissy menjadi seorang gadis polos yang ingin sekali berteman dengan Shelley DuVall, tapi malah mengalami penolakan karena terus menerus meniru tingkahnya. Aku baru sadar bahwa cara ia tertawa dan terpana menanggapi setiap kalimatku begitu mirip dengan cara Sissy Spacek tertawa, seperti gadis kecil umur 10 tahun dalam tubuh orang dewasa.

Dan pikiranku kemudian bermonolog sendiri tentang banyak hal yang bertumpuk-tumpuk, sementara sedikit rasa sesalku kenapa tidak berani untuk mengutarakannya dalam percakapannya tadi. Satu-satunya pelepasanku hanyalah dengan membuka akun Twitter dan menulis sesuatu yang agak puitis tentang bertemu orang asing hari ini. Tidak aku harapkan bahwa dia di suatu tempat akan dapat membaca tweet-tweet ini, karena aku yakin kami tidak akan pernah bertemu lagi. 

Kalaupun kami akan bertemu lagi, aku penasaran untuk membalas pertanyaannya yang pertama. Apa pendapatnya ketika melihat aku tadi?


*Ditulis saat duduk di halte Busway Tosari Sarinah pukul 9 malam